Senin, 12 Desember 2016

Mesin Waktu Mengantarku ke Lumajang

Lumajang, kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang mungkin namanya tak banyak kita kenal. Tapi tahukah, Lumajang bagi banyak orang adalah dimensi yang berbeda dari perkembangan kota-kota di Jawa.

Lumajang telah menjadi semacam benteng kultural bagi kebudayaan Jawa, terutama Jawa Timur. Secara geografis wilayah Lumajang masuk wilayah yang dikenal dengan  tapal kuda. Tapal kuda ini mengacu pada bentuk kawasan di sisi timur Pulau Jawa yang berbentu tapal kuda (ladam). Kabupaten yang termasuk wilayah tapal kuda ini antara lain, Pasuruan sisi timur, Probolinggo, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Situbondo dan Bondowoso.

Sedangkan secara kultural Tapal Kuda adalah bentuk pertemuan kultural antara Madura dan Jawa. Di beberapa kabupaten di daerah Tapal Kuda penduduknya didominasi oleh Orang Madura. Lumajang juga salah satu daerah yang didominasi Orang Madura.

Bagi yang melihat secara lebih pesimis, melihat Lumajang, seperti Indonesia era 90-an atau bahkan 80-an, dalam bahasa yang lebih jelas; tertinggal.




***
Sebagai orang yang baru sekali dua ke Lumajang, terasa jelas ada semacam dembarkasi, garis batas antara modernitas dan tradisionalitas.Kalau anda dating dari Surabaya atau Jakarta, hal terbaik untuk merasakan ini adalah dengan ke Lumajang menggunakan kereta api.


Stasiun Klakah adalah satu-satunya stasiun yang beroperasi di wilayah Kabupaten Lumajang. Stasiun Klakah sedemikian klasik, menjadi semacam penandah kalau kita tengan memasuki gerbang wilayah yang bisa jadi berada beberapa jarak waktu di belakang Surabaya apalagi Jakarta.

Paragrap di atas tak berusaha untuk mengatakan bahwa Lumajang kuno atau terbelakang, melainkan ingin menjelaskan, negeri ini masih memiliki keisitimewaan, tidak serta merta bergerak cepat ke arah modernitas yang kadang absurd. Lumajang dan daerah-daerah sejenis adalah kesempatan terakhir bagi kita untuk melihat wajah Jawa-Madura dalam  bingkai yang lebih genuine dan alamiah.

Malam itu dengan kereta Ranggajati (jurusan Cirebon-Jember), saya menuju Stasiun Klakah dari Sidoarjo. Perjalanan dari Sidoarjo berdurasi eitar 2 jam 40 menit, ya sebut saja 3 jam. Sekedar info kereta ini baru saja beroperas pada November 2016 lalu. Jadi mungkin masih terasa asing di telinga traveler. Selain Ranggajati ada juga Logawa yang lebih legendaris melayani rute Purwokerto/Cilacap-Jember.

Tiba di Klakah sekitar pukul 9 malam. Hanya kami bertiga, saya, istri dan anak penumpang yang turun di Klakah. Well, ini adalah pengalaman pertama menggunakan kereta, baik kereta jarak jauh maupun commuter line dimana saya dan keluarga menjadi satu-satunya penumpang yang turun di sebuah stasiun.

Suasana stasiun begitu klasik, berada di stasiun ini, seprti mundur beberapa puluh tahun dari kehidupan hari ini. Ranggajati telah menjadi semacam “mesin waktu” yang telah mengantarkan kami ke satu dimensi waktu. It’s amazing, batinku.

Tak sampai disitu, menjejak keluar pintu stasiun. Seorang petugas keamanan segera menutup pintu utama stasiun. Artinya, operasional stasiun telah berakhir. Di pintu gerbang stasiun, sebuah becak berwajah lusuh dan tua menanti kami, menawarkan jasa untuk mengantar kami ke jalan raya. Bapak yang menjadi sahabat becak itu menawarkan dengan lembut dan ramah, meyakinkan kami untuk menggunakan jasanya.

Ada keinginan kuat untuk menikmati perjalanan dengan moda transportasi yang di banyak kota di Indonesia telah menjadi cerita, masa lalu, tersisih dalam guratan waktu. Tapi rasionalitas berkata lain, becak itu tak akan sanggup menampung kami  bertiga dan satu koper besar yang kami bawa.

Jarak dari Stasiun Klakah ke pusat kota Lumajang sekitar 15 kilometer. Tak lama berjalan seorang bapak dengan logat Madura menanyakan tujuan kami. Ragu untuk merespon, maklum saja insting kecurigaan sebagai bentuk pertahanan diri kadang mengemuka. Tapi akhirnya insting itu kubuang dan kami merespon.

Benar saja, bantuan datang, bapak itu menawarkan tetangganya untuk mengantar ke Lumajang. Tak ada transaksi, seperti lazimnya di kota besar. Pemilik mobil Cuma bilang, “monggo mas, sak ikhlase..”

Kalimat ini sulit untuk diterjemahkan, karena untuk menerjemahkan kalimat ini, perlu kepekaaan, pelu pemahaman dan perlu pengetahuan. Buat kita yang telah terbiasa, denagns egala sesuatu yang terbuka dan terus terang, apalagi menyangkut uang, ini tentu saja membingungkan. Sebenarnya aku bisa saja terus berkeras untuk meminta bapak itu menyebutkan angka. Tapi instingku mengatakan, biarlah. Justru inilah tantangan kita untk memiliki kepekaan dan kemampuan analisis.

Sebuah mobil dari masa lalu datang dari balik garasi sederhana berpintukan papan yang disusun rapat dengan rumus pemasangan yang komplek. Yes¸ Toyota Corolla DX yang kuprediksi bertahun 1981 atau 1982.

Mobil ini bisa dibilang mobil mewah, di zamannya. Mesinnya terkenal bandel dan hemat pula. Mobil ini membawa kenanganku pada mobil yang pernah dimiliki orang tuaku, sekitar 15 tahun silam.

Perbincangan di perjalanan dengan pemilik mobil memberiku dua beban; pertama adalah menganalisis angka yang pantas untuk menghargai jasa beliau dang anti bensin yang kedua adalah menggali seluk beluk Lumajang dan tentu saja sejarah mobilnya itu. (Percakapan dengan beliau aka nada pada tulisan khusus.)
Perjalanan sekita 30 menit saja, kami tiba di penginapan yang kami jadikan tempat singgah sementara.

***

Dua tiga hari di Lumajang, membuatku semakin menyadari bahwa aku telah masuk ke sebuah dimensi budaya, social dan ekonomi yang sedikit berbeda dengan apa yang aku jalani dalam keseharian di seputaran ibukota.

Lumajang sebagai kota dan masyarakatanya sebagai entitas bagiku adalah cermin. Cermin yang pada akhirnya mengantarkanku pada kesadaran betapa dekil dan kumalnya aku sebagai bagian dari kehidupan modern ibukota.

Ada banyak hal yang membuatku kadang malu, kadang tersipu meski kadang rasa tinggi hati muncul ketika sadar betapa masih ada di belakangnya Lumajang disbanding ibukota, betapa masih naturalnya kehidupan disini; sederhana, memukau dan apa adanya.

Citra, kamuflase dan kesia-siaan menjadi semacam identitas yang ada di seberang Lumajang, dan aku menjadi bagian dari yang ada di seberang.

Ketika kita berjalan dengan mesin waktu dan mundur ke dimensi waktu di masa lalu, selalu ada potensi untuk menjadi arogan dan merasa dua tiga langkah di depan. Tetapi kalau kita mau lebih melihat dengan cara yang berbeda; nurani, kerendahan hati, dna kontemplatif. Niscaya hasilnya akan berbeda justru rasa malu, kecil dan rindu. Itulah yang aku rasa.

***
Tertarik untuk menyimak perjalanan dengan mesin waktu ke Lumajang, silahkan ikuti tulisan-tulisan sederhanaku dengan #100kisahpanjangdarilumajang.

Mengapa disebut 100 tulisan panjang dari Lumajang. Secara pribadi aku ingin menulis 100 tulisan tentang Lumajang, kapan berakhirnya, ya entah kapan. Mengapa cerita panjang, karena tiap tulisan relative panjang sekitar 1000 kata per tulisan. Hal ini cukup panjang dari kebanyakan tulisan yang kubuat untuk nge-blog. Mengapa Lumajang ? Entahlah, kota ini menyita hatiku. Bukan saja saat berada disana tapi jauh hari setelah aku tak tak disana.

Aku tak tahu adakah web atau blog yang mengulas tentang Lumajang, aku hanya ingin berbagi dan mengisahkan apa yang kulihat, dengar baca dan rasakan. Semua tentang hidup, semua tentang yang terlupakan semua tentang Lumajang.

Kalau ada yang tak berkenan mohon dimaafkan, jika ada yang tak sesuai mohon diingatkan. Kalau terasa ada kalimat yang arogan dan tinggi hati mohon disampaikan. Semoga ada yang bisa diambil hikmahnya.




0 comments:

Posting Komentar

 

Sisi Lain Nusantara Template by Ipietoon Cute Blog Design