Senin, 12 Desember 2016

Naik Becak di Lumajang Ceritanya Jadi Panjang

Bagi generasi milineal, becak tak masuk dalam kamus transportasi tentunya. Bahkan mungkin puluhan ribu anak-anak yang tumbuh di kota-kota macam Jakarta, becak sudah menjadi legenda, hanya katanya.

Tapi di Lumajang, becak adalah hari ini, becak adalah kehidupan, becak adalah ruang interaksi sosial. Apa ada yang salah dengan kehadiran becak di zaman yang begitu pesat bergerak ini ?

Awalnya aku berpikir becak adalah symbol keterbelakangan infrastruktur transportasi, becak perlambang kemiskinan dan kebodohan, begitu kira-kira dalam bahasa yang paling kasar. Tetapis etelah menyelam lebih jauh dan berinteraksi panjang dengan masyarakat Lumajang, khususnya para pembecak. Aku tahu, imajinasiku tentang keterbelakangan itu tak sepenuhnya benar. Becak adalah identitas, ia bukan representasi dari perlawanan atas modernitas, melainkan benteng atas kepongahan zaman.



Sebegitunya ?

Bagiku ya begitu. Berikut sekelumit kisahnya.




***
Cobalah naik becak di Lumajang, lantas Tanya berapa ongkos dari titik A ke tiik B, aku super yakin lebih dari 90% jawabannya “sak kersane…” atau “monggo dipikir mawon…” atau jawaban sejenis yang pad aintinya pembecak tak akan menyebutkan angka.

Lantas aku berpikir, kok aneh. Aku sudah melakukan eksperimen dengan memberi sedikit, kerap aku beri juga lumayan banyak. Belum pernah ada keluh atau protes dari pembecak tersebut. Selain kata-kata “matur sembah nuwun, mas.” Terjemahannya kurang lebih terima kasih banyak.

Aku lantas punya kesimpulan, kalimat “Terserah mas, sepantasnya saja.” Yang dicaupkan banyak pembecak saat akan bertransaksi, bukan basa basi atau strategi marketing seperti yang kerap kita alami di kota-kota besar.
Bilangnya sih terserah mau kasih berapa, dikasih sedikit mukanya cemberut dan jangankan ucapkan terima kasih, menoleh pun tidak. Bahkan kadang-kadang disertai umpatan.
Aku mencoba menghubungkannya dengan beban hidup. Oh, mungkin kalau di kota besar beban hidup begitu besar, sehingga mau tidak mau untuk bertahan hidup, harus sedikit “buas”. Sedangkan di kota macam Lumajang, beban hidup tak sehebat di kota besar, sehingga berapapun penghasilan maish bisa untuk bertahan hidup secara layak.

Tapi benarkah logika yang kubangun ? rasanya aku tak yakin.

Aku naik becak di Lumajang mungkin sekitar 70-100 kali. Kadang bertemu denagn pembecak yang sama kadang berbeda. Kucoba telusuri pendapatan rata-rata mereka, secara kasar penghasilan per hari mereka 20-50 ribu. Tak besar untuk kacamata kita di ibukota atau di kota yang perputaran uangnya besar.

Lantas apa yang membuat senyum para pembecak disini tetap merekah ? usut punya usut ternyata kesyukuran dan keluarga.

Syukur, banyak artikulasinya yang aku dapatkan dari pembecak di Lumajang. Ada yang bilang, kalau 10 ribu, satu juta atau 100 juta itu nominalnya. Cukup atau tidak itu tergantung yang memegangnya. Sulit logikaku yang semata kaki ini memahaminya. Mana bisa 100 juta sama dengan 10 ribu ? aneh !

Tapi jawabannya kudapatkan dari pembecak lainnya yang bilang, kalau kita bersyukur dan menikmati dengan penuh syukur, 10 ribu bisa memenuhi kebutuhan kita. Tetapi kalau 100 juta tapi kita menerimanya dengan ketamakan dan tanpa rasa syukur justru bisa menjadi petaka.

Lantas, aku menganalogikannya dengan seorang penjudi yang menang besar, sebut 100 juta, tapi yang terbersit di kepala dan hatinya adalah kemenangan yang lebih besar, kalau bisa jadi 1 milyar. 100 juta melayang, impian kandas, hidup selalu tak puas.

Tapi mari bayangkan 10 ribu rupiah yang dhasilkan seorang pembecak yang ia beawa riang gembira ke rumah, lantas dibelanjakan untuk kebutuhan keluarga, beras dan sedikit lauk. Kemudian dinikmati bersama dengan anak istri, sembari bersyukur pada Allah dan berharpa besok mendapat rezeki lagi. Ah, sesederhana itu sebenarnya kalkulasi berbasis syukur.

Ada pembecaka yang bilang begini “Kalau saya mas, berapapun rezeki per harinya, ya itu yang terbaik yang diberikan Allah.” Ya, kadnag kita merasa kurang dengan takaran kita, padahal Allah punya parameter yang kadang kita tak paham. Manusia dimbimbing oleh nafsunya, sehingga kepuasan adalah sesuatu yang sangat abstrak.

Pantas saja ada kalimat “Musuh terbesar manusia adalah nafsu.” Nafsu adalah garis tipis pembeda manusia dengan binatang, sekaligus pembeda manusia dengan malaikat. Kalau kendali atas nafsu terorganisir  dengan baik, kita mendekati malaikat yang taat dan penuh pengabdian pada Sang Kholiq, kalau nafsu telah jadi panglima dalam hidup. Maka kita setali tiga uang dengan binatang.

Apa kebijaksanaan ini dating dari penulis ? ai, jauh sungguh. Apa-apa yang saya tuliskan ini adalah refleksi dari pembecak tua yang bias amangkal di depan supermarket Gadjah Mada di pasar Lumajang. 40 tahun ia menggantungkan hidup dari kayuhan becak tuanya yang sampai kini masih kokoh. Apa ia mengeluh di beri 5 ribu oleh pelanggannya walau jarak yang ditempuh relatif jauh. Allah yang menggerakkan hati dari tiap pengguna jasanya. Maka ia percaya itu amanah yang dititipkan Allah. Tersenyum dan bersyukur, itu saja kuncinya. “Sing penting syukur ndok Gusti Allah, mas.”

***
Aku ke Lumajang dalam rangka tugas kantor, ada opsi rental mobil atau rental motor untuk transportasi. Tapi aku terlanjur jatuh cinta dengan becak.

Aku menyebutnya romantisme mewah di tengah hidup yang makin canggih. Aku jatuh hati dengan perbincangan renyah dengan tiap pembecak, aku jatuh cinta dengan kelambatan yang diberikan becak.

Coba bandingkan berada di atas motor atau di dalam mobil, lantas lihat ke luar. Semua hal seperti bekelebat, cepat dan sekilas. Dari dalam becak, semua begitu detail dan lambat. Hidup bergerak dalam dimensi yang berbeda.

Tentu perspektif developmentalis menganggap becak hanya sebagai biang kemacetan, simol keterbelakangan dan representasi dari kemiskinan. Harus disingkirkan. Tentu untuk kota seperti Jakarta becak sudah sangat sulit untuk berkompetisi.

Teringat “City of Joy” karya Dominique Lapierre dengan latar cerita kota Kalkuta di India yang ketika itu masih banyak dihuni oleh manusia-manusia  penarik kereta yang berjuang dalam zaman yang berubah di India. Di balik penat dan beratnya hidup par apenarik kereta punya kearifan dan punya cara yang berbeda dalam memandang dunia.

***
Dari puluhan pembecak yang saya temui di Lumajang semua berumur di atas 40, bahkan ada yang katanya berumur nyaris 70 tahun. Satu saja anak muda yang pernah kujumpa masih berusia sekitar 38. Apa artinya ? becak tak lama lagi akan tinggal cerita di Lumajang. Prediksiku tak lebih dari 20 tahun, bahkan mungkin kurang dari itu.

Kita masih punya kesempatan belajar dan menyelami hidup dan makna kehidupan dari pembecak yang telah belasan bahkan puluhan tahun berdetak seiring kayuhan pedal becak mereka. Mereka menjadi saksi dari perubahan dan denyut nadi sebuah kota. Mereka merekam banyak hal yang bisa jadi tak terekam dari warga lain. Mereka menjadi saksi hidup dari tiap hal yang mungkin dilewatkan orang lain. Lebih dari itu, bisa jadi mereka adalah gudang dari kearifan hidup. Alangkah ruginya kalau kita tak sempat belajar.




0 comments:

Posting Komentar

 

Sisi Lain Nusantara Template by Ipietoon Cute Blog Design