Selasa, 13 Desember 2016

Ya Cuma Pisang…




Berkunjung ke suatu daerah baru, ada kecenderungan kita bertanya apa yang khas dari daerah tersebut. Tak terkecuali aku, saat berada di Lumajang. Kutanyakan hal serupa. Apa yang khas dari Lumajang ?

Banyak pola jawaban, tapi substansinya sama, pisang. “Paling yo pisang, mas.” “Ga enek opo-opo, paling pisang.” “Pisang agung, mas.” Semua intonasi dan ekspresi, sepertinya punya frekuensi sedikit negatif dalam merespon pertanyaan ini.

Seperti ingin berkata, Lumajang tak punya apa-apa, yang populer paling hanya pisang. Begitu kalimat sederhananya. Benar adanya, ketika kita sudah berada di daerah tertentu dalam waktu yang lama, hal-hal unik dan menarik, akan cenderung hilang dan menjadi hal biasa-biasa saja. Apalagi di wilayah agraris yang tak begitu kaya sumber daya mineral seperti Lumajang. Ada perasaan inferior, yang merasa tetangga lebih baik. Jember lebih maju, Malang apalagi.

Kemudian pisang menjadi pengecualian.Orang Lumajang punya kepercayaan diri bahwa pisang agung khas Lumajang adalah yang istimewa dan bisa menjadi kebanggaan. Meski kebanggaan dari orang Lumajang tersebut terkesan tak benar-benar sebuah kebanggaan. Ekspresi dan intonasi tak bisa menyembunyikan hal itu.

***
Kalau mau dilihat secara sosiologis, masyarakat transisional dari kultur rural ke urban, cenderung membutuhkan kebanggaan yang sifatnya infrastruktur dan modern. Terlihat manakala seorang pembecak menceritakan tentang jalan besar yang melintasi perawahan mereka, jalan yang menurutnya jalan terlebar yang ada di Lumajang. Ada semacam kebanggaan dan keterpesonaan ketika membincang tentang ini, berbeda ketika topik saya kembalikan ke seputar pisang, ada semacam penuruan antusiasme.

Pisang tentu saja bisa menjadi simbol agraris, lagi-lagi melambangkan ketertinggalan. Saat Surabaya tengah membanggakan Jembatan Suramadu yang tenar dan megah, saat Banyuwangi sedang bangga-bangganya dengan Bandara Banyuwangi dan Banyuwangi Fashion Carnival, Jember dengan kampus Universitas Jember yang mahsyur di seputaran tapal kuda, Malang dengan kemajuan kotanya, dan sebagainya. Lumajang seolah masih stagnan dalam himpitan simbol-simbol ketertinggalan. Pisang sepertinya tak cukup menjadi identitas yang membanggakan tersebut.

Pada titik ini saya mulai bisa mengerti bahwa perkembangan masyarakat sejatinya berbentuk melingkar, pada titik tertentu masyarakat yang telah mencapai fase modern, akan kembali pada kerinduan yang sifatnya tradisional. Di sisi lain masyarakat yang belum sampai pada fase ini, akan berupaya sekuat tenaga membangun identitas dan mengejar ketertinggalan menuju masyarakat modern. Ah, begitulah hidup !

Amati masyarakat perkotaan, apa yang mereka kejar saat long weekend misalnya. Berbondong-bondong ke tempat-tempat yang menyajikan nuansa alam yang sunyi, yang indah, yang membawa romantisme. Lihat saja di Jakarta, saat liburan, kawasan puncak jadi tujuan. Di Surabaya, saat akhir pekan masyarakat menyerbu kawasan Batu di Malang atau kawasan yang menyajikan nuansa alam.

Pada masyarakat transisional, bosan dengan sambal terasi atau sayur lodeh, pizza dan burger jadi idaman. Tapi masyarakat modern yang telah bosan dengan artifisialitas hidangan, justru rindu sambal terasi dan lalapan petai dengan ikan asin. Ah, begitulah kehidupan.

***
[Tak Sekedar] Ya Cuma Pisang…

Kembali ke soal pisang agung, kalau saja ada terobosan yang luas biasa. Misal saja ada festival senjata buatan berbahan dasar kulit dan batang pisang, atau ada festival musik jazz bertema pisang. Mungkin ceritanya akan lain. Pisang Lumajang akan naik kelas. Sepertinya mustahil melakukan ide-ide di atas, tetapi itulah intinya post-modernitas. Mengejar kemustahilan. Karena mustahil atau tidak itu hanya masalah asumsi dan prediksi. Kalau kita bisa keluar dari zona itu, tak ada yang mustahil.

Gara-gara pisang Lumajang, aku mulai bicara kesana kemari. Tapi pisang sesungguhnya bisa menjadi identitas yang membanggakan dan menyejahterahkan masyarakat Lumajang. Tercatat ada 170 negara yang mmebudidayakan pisang di dunia. Pisang juga salah satu sumber kalori utama bagi manusia di dunia. Satu hal lagi pisang disebut telah dikembangkan manusia jauh sebelum padi dibudidayakan.

Christope M Mbida dan Wim Van Neer dalam sebuah laporan ilmiah “Evidence for Banana Cultivation and Animal Husbandry During the First Millennium BC in the Forest of Southern Cameroon” yang diterbitkan dalam jurnal Journal of Archaeological Science (2000) 27, 151-162. Menemukan berbagai bukti ilmiah bahw apisang sudah mulai dibudidayakan Milenium pertama sebelum masehi. Pisang bisa jadi adalah salah satu sumber protein nabati tertua yang dibudidayakan manusia.

Apalagi kalau perkara pisang ini juga dihubungkan jasanya bagi kemerdekaan republik Indonesia. Dimana pisang pada mas aperjuangan gerilya menjadi penopang logistik pasukan republik. Pisang kalau ditelusuri dimensi historis, antropologis dan juga sosiologis ternyata memiliki dimensi yang begitu kompleks dan luar biasa. Pisang bukan ya cuma.. Pisang bisa jadi embrio kebanggaan sekaligus topang kesejahteraan bagi masyarakat Lumajang.

Pekerjaan rumahnya hanya satu, bagaimana menghadirkan terobosan ? Sepatu kulit pisang misalnya atau arsitektur bebahan dasar batang pisang, atau apa sajalah yang gila tapi bisa diwujudkan, yang memukau tapi sederhana. Kalau ikhtiar ini dijalankan dengan kesungguhan bukan tak mungkin Lumajang mencuri perhatian dunia dan menjadi rujukan bagi pengembangan turunan industri berbahan pisang. Kalau ditanya langkah awalnya seperti apa ? Pemerintah daerah dan kampus setempat bekerjasama mmebuat pusat riset dan ekonomi kreatif berbasis pisang. It is serious ! Just do it and let young people making amazing things happen.

***
Pasar Klakah yang tak jauh dari stasiun kereta Klakah adalah sentra transaksi pisang agung, yang bisa jadi terbesar di Lumajang. Tak sedikit yang menjual pisang tersebut ke penampung yang kemudian mengirimnya ke Surabaya, Jember atau Jakarta.

Suasana pagi berselimut kabut tipis khas dataran yang relatif tinggi membuat pagi terasa dingin, segar dalam tiap tarikan nafas. Sepertinya hal ini biasa saja, tapi kalau saja kita tahu betapa sulitnya mendapatkan kesegaran di kota-kota besar, alangkah mahal apa yang dimiliki masyarakat Lumajang.

Suara motor-motor yang tergolong tak lagi mudah saling bersahutan, satu persatu motor dengan beban berat pisang dibelakangnya masuk ke areal pasar. Ada yang tak sampai pasar sudah dicegat calon pembeli.
Transaksi berlangsung hangat, transaksi sesekali diiringi canda tawa yang santai. Ah, betapa mahal semua ini. Pisang bukan sekedar komoditi, pisang telah menjadi medium yang mempertemukan banyak orang, pisang adalah identitas pagi di Lumajang.

Suasana seperti ini bisa kita temui di pasar-pasar lain di kecamatan yang tersebar di Lumajang. Kalau saya pemerintah daerah mau mendorong industri kreatif berbasis informasi teknologi masuk ke Lumajang dan didukung penuh untuk mengembangkan pisang agar tak sekedar menjadi “Ya Cuma pisang..” saya yakin suatu hari Lumajang akan melampaui banyak daerah dalam kesejahteraan rakyat.

***

Rakyat Lumajang dalam lembut aliran kehidupannya dalam senyap perkembangannya tentu menanti sebuah terobosan dari pengelolah negeri. Kalau selama ini pisang sekedar kebanggan yang semu, mudah-mudahan ke depan pisang agung khas Lumajang bisa menjadi identitas, bisa menjadi kebanggaan yang sesungguhnya.
Dalam rindu pada syahdu pasar Klakah kutuliskan kisah tentang pisang ini.



0 comments:

Posting Komentar

 

Sisi Lain Nusantara Template by Ipietoon Cute Blog Design