Rabu, 11 Januari 2017

Ingin Memahami Hidup, Maka Diam


Banyak hal yang tak kunjung kita pahami dalam hidup. Misal saja mengapa seorang yang kaya raya hidupnya tak bahagia, sedangkan sebuah keluarga sederhana dengan penghasilan sangat minim bisa menikmati hari-hari dengan ceria ?


Kita bahkan tak paham apa alasan kita hidup, mengapa kita mencari uang, mengapa seorang ibu dengan luar biasa berjuang untuk anaknya, mengapa ada anak yang menyakiti hati kedua orang tuanya. Banyak lagi hal yang kita tak paham. Mengapa ?

Dunia hari ini adalah dunia yang bising. Dunia dimana lebih banyak orang yang berharap panggung tinimbang menonton, berkali lipat orang ingin didengar daripada mendengar, berkali lipat pula orang yang ingin diperhatikan tinimbang memperhatikan.

Dunia sesak oleh hingar bingar informasi, sosial media isinya silih berganti, semua berebut menjadi viral. Panggung politik pemainnya silih berganti pula, tapi  mentalitasnya berubahkah ? entahlah, bisa jadi topeng dan teknik sandiwaranya yang berubah.

Pernahkah kita mencoba diam, ya sekedar diam. Berhenti untuk berkehendak atas dunia. Hanya menerima saja, mendengar dan merenung. Tak perlu lama melakukannya seminggu atau kalau bisa sebulan saja. Tak ada yang bisa dijanjikan dari hal ini, tapi bisa jadi setelah melakukan ini cara pandang anda atas hidup dan kehidupan akan berubah, bisa jadi dunia akan terasa melambat atau hal lain yang akan anda rasakan.




Diam yang bagaimana ?

Cobalah diam ketika anda sangat ingin bicara, cobalah untuk tak berkehendak banyak, cobalah untuk sekedar menerima atau mendengar tanpa reaksi tanpa kehendak.

Saya mencontohkan apa yang saya lakukan; Setiap hari saya menempuh perjalanan sekitar 50 KM sekali jalan dengan bermotor, pulang pergi seratusan kilometer.  Setiap hari saya pacu motor, banyak kehendak saya dalam tiap perjalanan. Saya berkehendak cepat sampai ke kantor pada pagi hari, saya berkehendak ingin cepat sampai ke rumah pada petang hari. Perjalanan diisi dengan kehendak.

Pun terbersit kehendak punya mobil, agar bisa menggunakan mobil ke kantor agar tak lelah, kehendak untuk pindah kantor pun muncul dan kehendak-kehendak lainnya. Tapi pada satu titik saya mencoba diam, pikiran saya posisikan diam. Saya hanya memilih menikmati perjalanan sembari memuji Sang pemilik hidup.

Apa yang terjadi ? sehari dua setelah melakukan itu, aku kehilangan nafsu mengejar kendaraan lain yang ada di depanku. Aku sekedar fokus untuk bergerak 40-60 KM per jam saja, ya sesekali 80 Km. Tapi ini bukan masalah kecepatan, tetapi masalah menjadi diam. Sekitar terasa menjadi lebih lamban.

Dunia yang Laju dan Kita yang Diam

Kita semua tahu, dunia bergerak begitu laju, informasi menyebar dengan kecepatan yang super cepat. Waktu bagi manusia pasca-modern teramat sangat penting, Karena waktu adalah representasi peluang, terutama peluang-peluang menyangkut bisnis.  Teknologi, inovasi dan ambisi manusia telah menggerakkan dunia begitu laju, berkali-kali lebih cepat dari sebelumnya. Perubahan terjadi dalam hitungan menit, perubahan dalam konteks apa saja; gaya hidup, pola makan, teknologi, bahkan perubahan cara kita berkomunikasi.

Di saat dunia begitu laju, kita sebagai manusia memilih untuk beradaptasi, ikut menjadi cepat, kalau tidak terlindas. Pernahkah kita berpikir tentang antitesa dunia yang laju ? Ya, kita melamban bahkan diam.

Tidakkah anda mulai merasa jenuh dan bosan dengan dunia yang begitu laju ? tak maukah anda memilih untuk sedikit lebih lamban ? Berhentilah berada dalam ketergesa-gesaan. Mungkin diam membuat kita paham apa dan bagaimana kehidupan ini sejatinya.


0 comments:

Posting Komentar

 

Sisi Lain Nusantara Template by Ipietoon Cute Blog Design