Kamis, 05 Januari 2017

Itu Dulu...


Dulu, kau adalah alasan mengapa aku berkelana ke negeri-negeri jauh, tak peduli jarak. Kutahu pada akhir perjalanan aku bisa berkisah padamu. Tentang tanah, manusia dan sesekali tentang makanan khas di negeri itu.

Aku tahu kau akan mendengar dengan seksama, binar matamu tak bisa sembunyikan betapa tertariknya dirimu pada cerita-ceritaku. Begitupun aku, tak pernah penat membagi kisah padamu, energi selalu saja tumbuh, tak ingin aku melewatkan sejengkalpun cerita kepadamu.




Tapi itu dulu….

Dulu, kau adalah alasan mengapa aku menuliskan tiap kisahku di blog sederhanaku. Kutahu di negeri nan jauh sekalipun, kau akan membaca tiap tulisanku. Tak peduli seberapa buruk tulisanku. Kadang kau tak bicara sudah membacanya, tapi jejakmu selalu aku tahu.

Tak ingin aku melewatkan tiap kisah menarik yang kujumpai menjadi narasi syahdu yang kadang pilu tapi adakalanya lucu.

Tapi itu dulu….

Blog mungil itu sudah kuobrak abrik, luluh lantak seiring pernikahanmu.

Pernikahanmu menjadi garis batas yang begitu jelas, keterpisahan kita bukan lagi perkara jarak atau waktu, tapi lebih dari itu. Perpisahan kita mendekati abadi ! Memang aku belumlah mati, kaupun demikian, tapi cinta kita sudah bersemayam di pusara memori. Cinta yang ditakdirkan mati dalam kepalsuanku dan kekerasan hatimu. Itu pikirku, bagimu belum tentu.

Perbedaan yang paling haqiqi yang membuat cinta itu tak menemui takdir keabadiannya mungkin hanya satu : aku yang tak pernah sadar bahwa kaulah cinta itu, sedangkan kau terlalu menghayati cintamu padaku.

Tapi itu dulu…

Hari ini, aku sangat mencintai istri dan jagoan kecilku dengan satu sudut hati dimana dirimu bersemayam abadi, tak terganti. Bagi sebagian perempuan ini adalah kemunafikan tapi bagiku inilah fakta yang tak bisa kunafikkan.

Hari ini, kau amat sangat mencintai suamimu; petualang, fotografet, alim dan setia, paling tidak itu kesanku. Kau pernah berkata hidupmu sempurna sudah. Aku bahagia untuk itu, kalimat itu bukan awal kalimat rayuan. Tapi sungguh itu dari hatiku.

Kini, aku tengah mencoba kembali pada apa-apa yang dulu sangat aku aku cintai: mendatangi banyak negeri dan menulis. Dua hal yang aku tinggalkan, karena aku tahu tak akan ada lagi dirimu yang akan mendengar ceritaku dan membaca tulisanku.

Sayangnya, dua hal ini membuat bayanganmu kembali mengisi hatiku. Ada bayanganmu di tiap negeri yang kudatangi. Saat menulis, terbersit asa agar kau tersesat di blogku dan membaca tulisan-tulisanku.

Ah terlalu konyol untuk seorang laki-laki yang sudah sangat menikmati peran sebagai ayah bagi seorang jagoan mungil yang tiap senyumnya menghapus lelahku, tiap pelukannya menghentikan tiap resahku. Seorang suami dengan seorang istri yang berpeluh derita dan berpenat mendampingi dalam hidup yang benar-benar penuh penderitaan dan perjuangan.

Pada akhirnya, aku bisa paham mengapa begitu banyak hal-hal yang tak bisa dijelaskan dalam cinta.

0 comments:

Posting Komentar

 

Sisi Lain Nusantara Template by Ipietoon Cute Blog Design