Rabu, 11 Januari 2017

Ingin Memahami Hidup, Maka Diam


Banyak hal yang tak kunjung kita pahami dalam hidup. Misal saja mengapa seorang yang kaya raya hidupnya tak bahagia, sedangkan sebuah keluarga sederhana dengan penghasilan sangat minim bisa menikmati hari-hari dengan ceria ?


Kita bahkan tak paham apa alasan kita hidup, mengapa kita mencari uang, mengapa seorang ibu dengan luar biasa berjuang untuk anaknya, mengapa ada anak yang menyakiti hati kedua orang tuanya. Banyak lagi hal yang kita tak paham. Mengapa ?

Dunia hari ini adalah dunia yang bising. Dunia dimana lebih banyak orang yang berharap panggung tinimbang menonton, berkali lipat orang ingin didengar daripada mendengar, berkali lipat pula orang yang ingin diperhatikan tinimbang memperhatikan.

Dunia sesak oleh hingar bingar informasi, sosial media isinya silih berganti, semua berebut menjadi viral. Panggung politik pemainnya silih berganti pula, tapi  mentalitasnya berubahkah ? entahlah, bisa jadi topeng dan teknik sandiwaranya yang berubah.

Pernahkah kita mencoba diam, ya sekedar diam. Berhenti untuk berkehendak atas dunia. Hanya menerima saja, mendengar dan merenung. Tak perlu lama melakukannya seminggu atau kalau bisa sebulan saja. Tak ada yang bisa dijanjikan dari hal ini, tapi bisa jadi setelah melakukan ini cara pandang anda atas hidup dan kehidupan akan berubah, bisa jadi dunia akan terasa melambat atau hal lain yang akan anda rasakan.


Kamis, 05 Januari 2017

Itu Dulu...


Dulu, kau adalah alasan mengapa aku berkelana ke negeri-negeri jauh, tak peduli jarak. Kutahu pada akhir perjalanan aku bisa berkisah padamu. Tentang tanah, manusia dan sesekali tentang makanan khas di negeri itu.

Aku tahu kau akan mendengar dengan seksama, binar matamu tak bisa sembunyikan betapa tertariknya dirimu pada cerita-ceritaku. Begitupun aku, tak pernah penat membagi kisah padamu, energi selalu saja tumbuh, tak ingin aku melewatkan sejengkalpun cerita kepadamu.


Selasa, 13 Desember 2016

Ya Cuma Pisang…




Berkunjung ke suatu daerah baru, ada kecenderungan kita bertanya apa yang khas dari daerah tersebut. Tak terkecuali aku, saat berada di Lumajang. Kutanyakan hal serupa. Apa yang khas dari Lumajang ?

Banyak pola jawaban, tapi substansinya sama, pisang. “Paling yo pisang, mas.” “Ga enek opo-opo, paling pisang.” “Pisang agung, mas.” Semua intonasi dan ekspresi, sepertinya punya frekuensi sedikit negatif dalam merespon pertanyaan ini.

Senin, 12 Desember 2016

Naik Becak di Lumajang Ceritanya Jadi Panjang

Bagi generasi milineal, becak tak masuk dalam kamus transportasi tentunya. Bahkan mungkin puluhan ribu anak-anak yang tumbuh di kota-kota macam Jakarta, becak sudah menjadi legenda, hanya katanya.

Tapi di Lumajang, becak adalah hari ini, becak adalah kehidupan, becak adalah ruang interaksi sosial. Apa ada yang salah dengan kehadiran becak di zaman yang begitu pesat bergerak ini ?

Awalnya aku berpikir becak adalah symbol keterbelakangan infrastruktur transportasi, becak perlambang kemiskinan dan kebodohan, begitu kira-kira dalam bahasa yang paling kasar. Tetapis etelah menyelam lebih jauh dan berinteraksi panjang dengan masyarakat Lumajang, khususnya para pembecak. Aku tahu, imajinasiku tentang keterbelakangan itu tak sepenuhnya benar. Becak adalah identitas, ia bukan representasi dari perlawanan atas modernitas, melainkan benteng atas kepongahan zaman.

Mesin Waktu Mengantarku ke Lumajang

Lumajang, kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang mungkin namanya tak banyak kita kenal. Tapi tahukah, Lumajang bagi banyak orang adalah dimensi yang berbeda dari perkembangan kota-kota di Jawa.

Lumajang telah menjadi semacam benteng kultural bagi kebudayaan Jawa, terutama Jawa Timur. Secara geografis wilayah Lumajang masuk wilayah yang dikenal dengan  tapal kuda. Tapal kuda ini mengacu pada bentuk kawasan di sisi timur Pulau Jawa yang berbentu tapal kuda (ladam). Kabupaten yang termasuk wilayah tapal kuda ini antara lain, Pasuruan sisi timur, Probolinggo, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Situbondo dan Bondowoso.

Sedangkan secara kultural Tapal Kuda adalah bentuk pertemuan kultural antara Madura dan Jawa. Di beberapa kabupaten di daerah Tapal Kuda penduduknya didominasi oleh Orang Madura. Lumajang juga salah satu daerah yang didominasi Orang Madura.

Bagi yang melihat secara lebih pesimis, melihat Lumajang, seperti Indonesia era 90-an atau bahkan 80-an, dalam bahasa yang lebih jelas; tertinggal.

 

Sisi Lain Nusantara Template by Ipietoon Cute Blog Design